HEADLINE NEWS

Di Malam yang Hujan Bersama "Namaku Lazarus"

Gambar: dokumen pribadi.
Terasvita.com - Di malam yang hujan, persis di beranda kost-ku, saya duduk. Sendirian saja. Sudah biasa dan terbiasa. Kadang memang saya mencintai kesendirian.  Saya menyeduh segelas susu putih. Lalu, menyeruputnya pelan-pelan. Nikmat.  Apalagi...
Kemudian,  saya mengambil "Namaku Lazarus: Merangkul Bisikan Kerahiman", sebuah buku yang kubeli selepas makan siang pada Selasa (5/11). Saya membacanya pelan-pelan. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Dan,  paragraf  demi paragraf.
"Namaku Lazarus" berhasil manarikku pada suasananya. Saya terbawa pada apa yang ingin disuarakannya. Yaitu tentang ungkapan yang jujur dan apa adanya dari sang penulis, Tano Shirani, akan hidup yang rapuh dan "mudah pecah ini". Di halaman-halaman awal nuansa itu terasa.
Bahasa yang sederhana dan lugas. Serta kalimat yang singkat terasa enak "dikunyah". Hampir sama terasa mengunyah jagung goreng ibu di Kampung Wontong, persis di kala hujan begini beberapa  tahun  lalu. Tak terasa, sudah belasan halaman kata-kata yang saya "kunyah".
Hingga, di halaman empat belas, saya berhenti. Saya terhentak oleh kalimat ini: "Ini adalah kisah tempat kita semua mungkin bisa secara jelas bercermin. Ini adalah kisah hidup,  mati,  dan bangkit. Ini adalah kisah keberhasilan dan kejatuhan yang memalukan. Ini adalah kisah yang mengejutkan. Ini adalah tentang kita manusia yang tidak lagi bisa menulis kisah seperti yang kita impikan sebelumnya. Ini adalah kisah kita manusia yang harus menyerahkan pena kehidupan kepada Sang Penulis Agung. Kegagalan  dan aib bukanlah bab terakhir kisah hidup. Tuhan kembali memegang pena. Ia masih menulis kisah itu. Entah rangkaian kata seperti apa yang sedang ditulis. Entah siapa yang akan membaca dan memahaminya. Entah sampai kapan."
Saya Ingat Diriku dan Temanku
"Namaku Lazarus" membawaku pada jalan pulang. Jalan pulang itu adalah sebuah lorong sunyi yang jarang sekali kulalui. Di tengah hiruk-pikuk mencari nafkah dan gegap gempita ibu kota, lorong itu menjadi begitu asing, bagai rumah yang penuh sarang laba-laba dan rayap karena lama tak ada "yang hidup di sana".
Lorong itu adalah diriku sendiri. "Namaku Lazarus" menghadapkan aku di depan diriku sendiri. Seperti di hadapan sebuah cermin: Aku sedang menatap diriku. Aku makhluk yang rapuh dan "mudah pecah".
Tetapi, "Namaku Lazarus" juga mengingatkan bahwa hidup manusia tak pernah sepenuhnya  hancur oleh dosa dan kegagalan. Di tangan Sang Tukang Priuk yang sabar itu,  hidup yang "terpecah-pecah" bisa dibentuk  kembali menjadi bejana yang berguna asal kita mau dibentuk kembali oleh-Nya (bdk. Yeremia 18:1-17).
Selain membawaku pada jalan pulang diriku sendiri, petikan kalimat yang membuat saya terhentak di dalam "Namaku Lazarus" itu mengingatkan saya pada seorang kawanku, RH. Seorang kawan kalaku di bangku sekolah lanjutan pertama.
Hari ini, ia banyak dicaci maki. Nama-nama penghuni kebun binatang disematkan padanya. Tak terhitung kata dan kalimat yang bernada kutukan. Hal itu,  lantaran aksinya yang sangat tidak terpuji. Pada tataran tertentu, kata-kata makian, dan kutukan itu belum setimpal dengan akibat dari perbuatannya. Ia pantas menerimanya.
Sebagai luapan kemarahan, kekecewaan, kejengkelan  barangkali wajar. Tetapi, untuk memulihkan korban tentu saja tidak. Jauh di relung hatiku berkata, "Untuk apa?" Tetapi,  sudah. Semua orang punya hak.
Untuk korban saya berharap dan berdoa agar mengalami kesembuhan  total dari luka dan trauma akibat perbuatan kawanku itu. Tetapi, untuk sang pelaku, kawanku itu, barangkali kata-kata Tano Shirani dalam "Namaku Lazarus" meneguhkan: Kegagalan dan aib bukanlah bab akhir dari kisah hidup. Tuhan kembali memegang pena. Ia masih menulis... " apa yang Ia mau tulis dalam lembaran hidup kita.
Tidak seorang pun yang pada saat dilahirkan, memulai sekolah, memilih profesi, dll, memilih untuk menjadi orang jahat atau melanggar nilai-nilai dan atau ingin merusak kehidupan orang lain. Namun demikian,  kehendak baik tetaplah harus berangkulan dengan kerapuhan insani (hlm.  9).
Rian Safio, Jakarta,  5/11/2019, pukul 19.15.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *