HEADLINE NEWS

Agama Tetap Relevan di Zaman Post-Sekular


 Gambar: www.hidupkatolik.com
Terasvita. com - Bagaimana agama-agama menempatkan diri agar tetap relevan di tengah dunia yang pluralistik: agama, budaya, sistem-sistem nilai, dan pandangan hidup? Pertanyaan besar ini coba dijawab Prof. Dr. Adrianus Sunarko OFM, Uskup Keuskupan Pangkalpinang melalui karya intelektualnya berjudul “ Agama di Zaman Post-Sekular: Sebuah Refleksi Teologis”.
Dalam mengupas pertanyaan besar itu, doktor teologi lulusan Freiburg  itu membaginya dalam beberapa bagian sebagai berikut. Pertama, “Memberi Nama pada Zaman Ini: Post-Sekular?”; Prof. Narko, sapaannya, menjelaskan, post-sekularisme menunjuk pada kondisi sekaligus tantangan bagi kelompok sekular bahwa agama (yang beragama) untuk saling belajar satu sama lain sehingga masing-masing pihak memainkan peran yang tepat dalam negara demokratis (hlm. 16-17). Untuk konteks Indonesia, Prof. Narko melihat, pilihan demokrasi yang khas Indonesia dan perdebatan  soal dasar negara pada awal kemerdekaan menandakan secara normatif konsep post-sekular sudah dihadapi bangsa ini.
Kedua, “Agama di Ruang Publik: antara Liberalisme  dan Komunitarisme”. Pada bagian ini,   penulis buku “Teologi Fundamental dengan Paradigma Kebebasan”  ini mendiskusikan secara lebih spesifik tantangan masyarakat post-sekular terkait peran agama dalam percaturan kehidupan. Dalam kaitan dengan itu, sang penulis menghadirkan perdebatan antara liberalisme dan komunitarianisme. Liberalisme dalam arti tertentu memaksa agama untuk bermukim di ruang privat dan tidak mengotori ruang publik dengan simbol-simbol yang partikular (agama). Sementara, kaum komunitarian mengklaim agama-agama punya andil dalam masyarakat sebagai sumber pandangan hidup dan manusia riil selalu terikat dengan budaya, agama, etnis, dll.
Ketiga, setelah mendiskusikan tantangan masyarakat post-sekular, pada bagian ini, mantan pengajar di STF Driyarkara itu menyajikan bahwa menentukan mana yang harus dipilih antara dua kutub perdebatan tersebut bukan kapasitas agama atau teologi. Yang mendesak ditanggapi oleh agama dan teologi adalah menentukan dan menemukan posisi epistemis atau rasionalitas iman di hadapan kenyataan agama dan pandangan hidup yang plural, otoritas ilmu pengetahuan. Selain itu, agama dan teologi dituntut menemukan sikap yang tepat di hadapan fakta bahwa yang berlaku dalam politik adalah bahasa-bahasa sekular. Dalam kerangka Gereja Katolik, Konsili Vatikan II dengan lahirnya Dokumen Dignatatis Humanae, Prof. Narko melihat sebagai upaya menemukan posisi epistemis atau rasionalitas iman itu.
Akhirnya, tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa buku ini layak dibaca oleh semua kalangan. Pasalnya, dalam pembacaan kami, buku ini menyajikan dan menguraikan secara mendalam bagaimana seharusnya agama atau teologi mengupayakan diri agar tetap relevan di zaman post-sekular ini. ***
Rian Safio, versi cetak tulisan diterbitkan di HIDUP, No. 42, 18 November 2019.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *