HEADLINE NEWS

Sepucuk Surat Tanpa Nama

ilustrasi 

Terasvita - Lelaki tua itu berjalan pelan di atas pematang sawah. Sendiri. Tak seperti biasanya. Ya. Kali ini, ia betul-betul sendiri. Ada sunyi yang tak terlukiskan dengan kata di setiap degup jantungnya.  Sedikit ia menikmati senja itu. Tetapi, tidak seperti senja menjelang musim panen pada tahun-tahun yang silam.
Ende Lena, belahan jiwanya dan teman yang setia menemaninya sejak ia memutuskan untuk menikahi perempuan dari kampung tetangga itu  pada lima windu yang lalu,  baru saja kembali ke haribaan Sang Khalik. Antara ada dan tiada, nyaris tak ditemukan jaraknya. Kalut. Ia merindukan sosok yang tak sempat memberinya buah hati itu.
Yang amat terasa adalah tak ada lagi suara yang memanggilnya: Sayang. Perihal sapaan ini, sudah akrab di mulut dan telinga lelaki tua itu,  juga sang kekasih,  yang kini secara fisik tidak ada lagi. Semenjak  mereka sama-sama menderita  pikun lima tahun lalu, mereka lupa nama masing-masing sehingga sapaan sayang itulah yang menggantikan nama mereka. Karena mereka toh bukan lagi dua, melainkan satu.
Yang diingat hanyalah sapaan sayang. Ia. Kata "sayang". Karena kata sapaan itu mereka hidupi sepanjang dua sejoli yang tak dikaruniai keturunan  itu mengarungi bahtera keluarga mereka hingga di pelabuhan maut badani.
Kembali ke senja lelaki tua itu.  Ia terus berjalan. Sesekali matanya menatap bulir-bulir padi  yang mulai menguning. Indah. Menggairahkan mata. Ia tersenyum.  Itu senyum pertama kali sejak kepergian Ende Lena, sang kekasih hati. 
"Ahh...aku ingin berlama-lama di tempat ini. Karena lebih baik satu hari di tempat ini daripada seribu hari di tempat lain," demikian lelaki tua  bergumam dalam hatinya mengutip  Mazmur. Dan pada bulan akhir tahun itu genap berusia 70 tahun.
Apalagi, bulir-bulir padi yang dipandangnya itu berkat sentuhan tangan Ende Lena, kekasih hatinya. Keindahan padi pada dirinya dan kenangan indah tentang sang kekasih memosaikkan pemandangan  indah di hadapannya. 
Seketika,  rongga suaranya seakan-akan tercekak. Ia tak mampu untuk mengeksplisitkan dengan kata-kata tentang rasa: antara rasa kagum akan keindahaan senja yang nyaris purna itu dan rasa rindu akan kehadiran menubuh sang kekasih hati, Ende Lena tercinta. 
Ia hanya membatinkan seluruh realita yang ada di situ. Hamparan sawah yang menguning,  burung-burung bangau yang terbang tinggi dan sesekali turun di pematang sawah; tikus-tikus sawah yang asyik berkejaran-kejaran,  bayu senja yang menyapa kulit kusamnya dengan lembut; dll. 
***
Senja di pematang sawah itu akan segera purna. Ia harus kembali. Pulang. Pulang ke rumah. Toh tempat paling nyaman untuk pulang selama berziarah di dunia ini adalah rumah. Tak pusing, apakah rumah itu beratapkan alang-alang atau seng aluminium dan tak gubris apakah berlantaikan tanah atau kramik-kramik nan cantik. Yang penting engkau pulang ke rumah. Rumahmu sendiri. Bukan tersesat di rumah tetangga apalagi sampai di kamar. 
Tetaplah rumah. Kembali haruslah ke rumah, sebelum waktunya untuk kembali ke rumah abadi,  yaitu rumah Bapa di sorga. Engkau harus pulang ke rumah,  tempat engkau merasakan kehidupan dan tempat  engkau dan belahan jiwamu bekerja sama dengan Sang Pencipta untuk menghasilkan kehidupan baru. 
Langkah lelaki tua itu serentak terhenti. Ada suara yang memanggilnya. "Tunggu!" suara itu memecah keheningan senja  lelaki tua itu. Dia berusaha mengabaikan suara itu. Tetapi, tidak.  Suara itu terus menggema mengalahkan naluri masa bodoh-nya. 
Suara itu menyandranya. Sesosok tubuh yang kian renta itu menoleh ke arah datangnya suara itu. Ternyata seorang gadis belia. Gadis belia itu berlari ke arahnya. Rambut pirang setengah kritingnya diderai angin. Cantik. Tak ada di kampungnya gadis belia semanis itu. Bisa jadi,  ia satu-satunya laki-laki yang beruntung di dunia ini karena pernah melihat dengan mata telanjang gadis semanis itu. 
Akhirnya, gadis belia itu sampai di hadapan lelaki tua itu. Dia enggan mengambil posisi yang terlalu dekat dengan lelaki tua itu. Karena antara gadis belia dan lelaki tua itu ada jarak yang sebenarnya tak terjembatani, yaitu substansi keduanya. Lelaki tua itu adalah manusia dan gadis belia makhluk surgawi. Gadis belia itu hanya datang membawa sepucuk surat pada lelaki tua itu. Sepucuk surat tanpa nama, hanya ada satu catatan kaki. Setelah itu, dia pergi tanpa bisa dikenali lagi jejaknya.
***
Lelaki tua itu terpesona pada gadis belia itu. Sampai-sampai ia menyesal, mengapa ia lahir begitu awal dibandingkan gadis belia itu.
"Andai saja hidup ini bisa diputar kembali ke belakang, dan sayangku (Ende Lena-red) masih ada di sini, pada Tuhan, aku ingin meminta kalau boleh biarlah gadis belia itu lahir di tengah keluargaku  sebagai buah cintaku dengan sayangku."
"Aku tak peduli, apakah Lena, sayangku,  masih bisa mengandung atau tidak,  karena tubuhnya uzur. Aku tak peduli. Kalau Tuhan mau,  pasti Dia melakukannya. Bagi Tuhan toh tidak yang mustahil," demikian lelaki tua itu larut dalam khayalan.
Lelaki tua itu memang memiliki iman yang kokoh. Saban waktu, ia suka membaca Kitab Suci. Bagi dia,  Kitab Suci bukan fiksi seperti yang dibuihkan orang berlagak filsuh dari negeri antah berantah itu.Lelaki tua itu meyakini, Kitab Suci adalah sungguh-sungguh firman Tuhan. Menjadi pelita bagi kakinya dan terang bagi jalannya.
Dan benar. Tentang harapan, dia belajar dari tokoh besar yang diceritakan dalam buku suci itu; buku yang sering hanya disimpan di tempat-tempat doa mereka yang mengakui firman itu sudah menjadi manusia. Mereka lebih suka membaca berita-berita banal daripada "Surak Nggeluk" itu.
Abraham, tokoh besar dalam sejarah bangsa pilihan, demikian cerita dalam Surak Nggeluk itu, adalah guru yang baik untuk belajar teologi harapan. Sara, istirinya,  meski sudah berumur, Abraham toh percaya bahwa dia tetap akan menjadi bapa banyak bangsa. Dan terjadilah seperti yang dijanjikan ...
Lelaki tua itu mencicipi sedikit iman Abraham itu. Ia. Abraham adalah tokoh yang dibangga-banggakan oleh lelaki tua itu saban hari ia bercerita dengan Ende Lena kala rindu hadirnya penghibur di tengah republik keluarganya. Pun dengan anak-anak yang sering datang di bale-bale rumahnya. Sekadar ingin mendengar cerita dongengnya.
***
Lelaki tua itu kembali sadar dari lamunannya. Pelan-pelan dan amat hati-hati, dia membuka lembaran surat pemberian gadis belia itu.
"Laus (demikian nama lelaki tua itu) usia manusia 70 tahun, 80 tahun jika kuat." demikian bunyi surat tersebut lengkap dengan catatan kaki dari Mazmur 90:10.
Serentak lelaki tua ingat kalau usianya sudah 69 tahun, 11 bulan. Tinggal satu bulan lagi. Atau dapat bonus?
Ket:
Ende: mama atau ibu
Surak Nggeluk: Surat Suci (Kitab Suci-red) 
Rian Safio // penulis lepas


Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *