HEADLINE NEWS

Launching “Ziarah Batin 2021”: Catatan Seorang Tukang Kepuruk

By On September 14, 2020

Direktur Penerbit dan Toko Rohani OBOR, RD FX Sutanto (foto: obormedia)

Terasvita.com
Covid-19 “menggila” di Jakarta. Pemerintah pun kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Para pemburu rupiah harus bekerja dari rumah. Kantor-kantor sepi. Juga jalanan: agak lengang; tidak seperti biasanya: padat merayap.

Juga tempat-tempat umum lainnya: sepi. Orang-orang di ini kota pun resah dan gelisah menunggu virus jahanam ini mengucapkan selamat tinggal. Seperti kemarin: Minggu, 13 September 2020, di Lapangan Intercoon, Meruya, Jakarta Barat, seorang ibu penjual kopi mengungkapkan keresahan dan kegelisahannya dengan berceloteh begini: “Esok, PSBB lagi ya, Mas?  Gimana nasib saya orang kecil ini, gak bisa jualan; Gak ada pelanggan.”

Celotehan itu bukan tanpa dasar. Sebab, setiap bencana termasuk bencana wabah begini, yang paling rentan terkena dampak adalah rakyat kecil: seperti ibu penjual kopi itu, juga “kita-kita” ini.

Namun, tak ada gunanya resah apalagi gelisah kendati itu perasaan manusiawi yang lumrah. “Iya, Ibu. Semoga ada rezeki lain yang akan menghampiri ibu dan keluarga ibu,” begitu seorang sahabat menimpali celotehan ibu itu. Memang begitu itu: Bangkit dan bergandengan tangan menghadapinya jauh lebih elegan daripada meratapinya tanpa henti. Kata orang-orang, seorang pemenang sejati adalah seorang yang mau bertarung di kerasnya hari-hari hidup ini.

Ok. Let's go, Sayang. Jangan lama-lama kalo su mulai rasa. Tetapi, soalnya: ke manakah arah perahu… tiada angin membantu… Ohh…Semoga ini tidak dianggap buih verbal… Once again: Semoga.

Semoga apa?  Semoga ini: Anda dan saya masih kuat mengarungi lautan. Lautan kata tentang hari ini: 14 September 2020, hari pertama PSBB total di ini kota: Jakarta. Namun, bukan tentang PSBB-nya, melainkan tentang ini buku: Ziarah Batin. Di-launching hari ini, di Kantor Penerbit OBOR, Jl.  Gunung Sahari, Senen, Jakarta Pusat. Dalam kalender liturgi bertepatan Pesta Salib Suci. Ini bukan kebetulan. Yang kebetulan yah pas hari pertama PSBB total jilid II di Jakarta.

Mari kita tangguhkan soal yang kebetulan dan yang bukan kebeletan, eh yang bukan kebetulan-maksud kami. Kita berlanjut ke soal Ziarah Batin. “Itu apa?” begitu kira pertanyaan yang menggantung di kepala bagi yang awam dengan Ziarah Batin. Tidak salah: Wajar!!

Dalam sambutannya di hari peluncuran buku renungan harian sepanjang tahun itu, Direktur Penerbit dan Toko Rohani OBOR, RD FX Sutanto, mengatakan bahwa peluncuran ini menandai buku Ziarah Batin 2021 sudah mulai disebarkan ke seluruh Nusantara. Umat bisa memesannya melalui obormedia.com.

Pastor Diosesan Bogor itu menambahkan, Ziarah Batin pada tahun ini memasuki usia ke-26 tahun. Itu berarti sudah 26 tahun Ziarah Batin mendampingi umat di Nusantara: Menjadi teman setia ribuan umat Katolik. Lalu, sekadar intermezo: Ziarah Batin merupakan buku best seller di OBOR dengan oplah 60 ribu eksemplar.

Romo Sutanto, sapaannya, mengingatkan, buku Ziarah Batin tidak bermaksud menggantikan Kitab Suci, tetapi untuk membantu umat giat membaca dan merenungkan firman Tuhan.

“Semoga Ziarah Batin yang menjadi pendamping setia kita dapat membantu kita membaca, merenungkan, dan memetik buah-buah Firman Tuhan,” harapnya.

Selain dengan renungan-renungan yang ada di dalamnya, lanjut alumnus Universitas Parahyangan, Bandung, itu, Ziarah Batin memfasilitasi umat  (empat orang pemenang undian kupon Ziarah Batin) yang mau berziarah ke Tanah Suci secara gratis melalui kerja sama dengan Renata dan Stela Kwarta Tours and Travel.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi OBOR, Yon Lesek, menjelaskan, Ziarah Batin ditulis berdasarkan penanggalan liturgi Gereja sepanjang tahun. Dengan demikian, kata Yon-sapaannya, para pengguna Ziarah Batin terbantu untuk merenungkan Kitab Suci berdasarkan liturgi yang ditetapkan Gereja.

Ia menambahkan, Ziarah Batin digunakan seperti sebuah buku catatan rohani harian atau bulanan. Setiap akhir renungan disediakan setiap ruang untuk menulis pengalaman pribadi dalam terang firman Tuhan hari atau sepanjang bulan itu.

“Orang kudus dikenal dari catatan hariannya. Begitu juga para pengguna Ziarah Batin. Di kemudian hari dia bisa mengenal atau mengetahui perjalanan rohaninya dari tulisan di Ziarah Batin setiap hari dan setiap bulan,” ucap alumnus STFK Ledalero itu.

Kita sudah sampai di tengah lautan. Sekian mil telah kita lewati. Dan, kita mendapatkan ini: mengenal secara sekilas pandang Ziarah Batin. Kita tidak berhenti di sini. Kita terus merenangi lautan ini. Di seberang sana masih ada yang harus kita rengkuh. Mari kita ke sana itu.

Let’s go, Sayang. Jangan lama-lama kalau su mulai basah. Debur ombak masih akan terus menemani kita hingga ke tepian. Mungkin juga perahu ini karam dihantam badai. Hanya “Jangan takut! Aku ini: Tukang Kepuruk, ehh Tukang Kerupuk, eh salah lagi. Tukang Edit (editor-red) itu Ziarah Batin-maksud kami.”

Iya. Aku ini: Tukang Edit yah. Bukan Tukang Kepuruk seperti di judul “perjalanan” kita ini. Sekali lagi, Tukang Edit. Tugasku merenyahkan-seperti rasa kepuruk eh krupuk-bahasa itu Ziarah Batin. Juga, menata kata dan kalimatnya sehingga mendekati standar EYD. Semoga. Kalau tidak renyah dan sesuai EYD, masih ada typo: ehh itu dosa saya orang yang paling baik ini; juga dosa pemred saya. Hehe (Maaf, Kae).

Begini: Sejak Juli 2019, saya menekuni pekerjaan sebagai tukang edit di OBOR. Puluhan buku yang saya edit. Termasuk Ziarah Batin 2020 dan 2021. Masih kalah jauh dengan yang ditorehkan “Bapa Pemred”. Ia sudah mengedit ratusan judul buku selama hampir dua puluh tahun di sana. Salut.

Ahh… Masih jauhkah kita untuk sampai ke tepian itu?  Tergantung. Seruput kopi dulu. Amatilah kiri dan kanan Anda. Dua menit saja… Selesai. Mari kita kembali ke sini: catatan hati seorang tukang edit selama mengerjakan dua edisi Ziarah Batin itu.

Catatan satu. Benar kata orang-orang: Manusia adalah makhluk peziarah. Ziarah Batin pun melapangkan hal itu: Aku dan (Anda yang membacanya) melakukan peziarahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Beragam perspektif dan beragam buah Firman Tuhan di dalamnya, itulah kesejatian peziarahan itu.

Catatan dua. Kata Pemazmur, Firman Tuhan itu pelita bagi langkah kaki kita. Iya. Ziarah Batin membuat pelita itu terangnya semakin benderang sesuai dengan konteks waktu dan tempat kita bermukim: Saat ini di tengah pandemi Covid-19 dan di bumi Indonesia yang plural dan majemuk.

Catatan tiga. “Firman yang keluar dari mulut-Ku: Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yesaya 55:11). Ziarah Batin membuat apa Yang Mahatahu kehendaki bagiku semakin jelas, kendati saya tidak selalu berhasil mengikuti kehendak-Nya. “Roh memang kuat, tapi daging lemah” (Matius 14:38).

Akhirnya. Kita sudah sampai: Di tepian. Berapa liter air laut yang Anda minum: Aku tidak tahu. Yang pasti bahtera kita tidak karam oleh karang. Jangan lupa, untuk yang di seputaran Jabodetabek, kita lagi PSBB. Jaga jarak. Cuci tangan. Pakai masker. Asupi tubuh jasmani Anda dengan makanan yang bergizi; dan asup jiwa rohani Anda dengan sajian renungan Firman Tuhan dalam Ziarah Batin.

Saya:  Tukang Kepuruk, eh salah; saya: Tukang Kerupuk, eh salah lagi. Tukang Edit: ini baru benar, pamit undur diri.

Creocrao

75 Tahun Bom Hiroshima, Paus Fransiskus Minta Semua Orang Letakkan Senjata

By On August 07, 2020


Terasvita- Senjata nuklir tidak kompatibel dengan upaya mengembangkan perdamaian, kata Paus Fransiskus dalam sebuah surat kepada Hiroshima untuk menandai peringatan 75 tahun penyerangan dengan bom atom yang meluluhlantakkan kota itu oleh Amerika Serikat pada 6 Agustus 1945.

“Agar perdamaian berkembang, tidak ada hal lain selain semua orang harus meletakkan senjata terutama senjata yang paling kuat dan merusak: senjata nuklir yang dapat melumpuhkan dan menghancurkan seluruh kota, seluruh negara,” kata Paus Fransiskus dalam sepucuk surat kepada Gubernur Hiroshima, Hidehiko Yuzaki, seperti dilansir CNA.

Paus mengatakan kunjungannya ke Monumen Perdamaian Hiroshima dan ke Hypocenter Park di Nagasaki pada tahun lalu memungkinkan dia untuk merenungkan "tentang kehancuran kehidupan manusia dan harta benda yang ada di kedua kota tersebut selama hari-hari perang yang mengerikan pada tiga perempat abad yang lalu."

“Sama seperti waktu saya datang ke Jepang sebagai peziarah perdamaian pada tahun lalu, saya terus menyimpan dalam hati kerinduan orang-orang di zaman kita, terutama orang-orang muda, yang haus akan perdamaian dan berkorban untuk perdamaian,” kata paus.

“Saya juga membawa teriakan orang miskin, yang selalu menjadi korban pertama dari kekerasan dan konflik,” tambahnya.

Dalam suratnya, Paus Fransiskus mengulangi kata-katanya di Nagasaki pada tahun 2019, bahwa "penggunaan bom atom dalam perang itu tidak bermoral."

Semoga suara kenabian dari para penyintas hibakusha di Hiroshima dan Nagasaki terus menjadi peringatan bagi kita dan generasi mendatang!” ujar paus.

“Kepada semua yang bekerja untuk rekonsiliasi, kami mengulang kata-kata pemazmur ini: ‘Karena rasa cinta dari saudara-saudaraku, aku berkata: Damai bagimu!'”

Paus Fransiskus beberapa kali mengutuk penggunaan senjata nuklir, termasuk dalam pesan video ke Jepang menjelang kunjungannya tahun 2019.

Menyebut penggunaan senjata itu "tidak bermoral," katanya dia berdoa agar senjata itu tidak akan pernah digunakan lagi.

Jepang "sangat menyadari penderitaan yang disebabkan oleh perang," kata paus. “Bersama Anda, saya berdoa agar kekuatan destruktif senjata nuklir tidak akan pernah dilepaskan lagi dalam sejarah manusia. Menggunakan senjata nuklir itu tidak bermoral."

Rian Safio. Sumber: Catholic News Agency

Paus Fransiskus: Ajaran Sosial Gereja Dasar untuk Menyelesaikan Masalah-masalah Dunia

By On August 05, 2020



Terasvita - Paus Fransiskus mengatakan, Gereja bukanlah ahli dalam krisis kesehatan global, tetapi Ajaran Sosial yang dimiliki oleh Gereja Katolik merupakan dasar untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dunia saat ini.
"Meskipun Gereja mengurus rahmat penyembuhan Kristus melalui sakramen-sakramen, dan juga menyediakan layanan kesehatan di tempat-tempat paling terpencil di planet ini, Gereja bukanlah ahli dalam pencegahan atau pengobatan pandemi," kata Paus Fransiskus dalam audiensi umum, Rabu 5 Agustus, seperti dilansir CNA.
Berbicara melalui live streaming dari perpustakaan Vatikan, mantan Uskup Agung Buenos Aires itu menyatakan bahwa Gereja “membantu orang sakit, tetapi Gereja bukan ahli. Gereja juga tidak memberikan petunjuk-petunjuk sosial-politik tertentu."
“Namun, selama berabad-abad, dan dalam terang Injil, Gereja telah mengembangkan beberapa prinsip sosial yang merupakan prinsip dasar yang dapat membantu kita bergerak maju, yang kita perlukan untuk menyonsosng masa depan,” lanjutnya.
Paus yang mengambil St. Fransiskus Assisi sebagai nama kepausannya itu juga berbicara tentang pentingnya iman kepada Yesus Kristus, yang menyembuhkan tidak hanya penyakit fisik, tetapi juga spiritual.
Dia menunjuk banyak kisah dalam Injil tentang mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus selama pelayanan publik-Nya, termasuk penyembuhan orang lumpuh di Kapernaum, yang harus diturunkan melalui lubang di atap oleh teman-temannya.
Mengutip Injil Markus, Paus Fransiskus berkata, "Yesus, dengan memperhatikan iman mereka (orang-orang yang menggotong si lumpuh-red), berkata kepada orang lumpuh itu: Nak, dosa-dosamu telah diampuni."
"Dan karena itu, Yesus menyembuhkan orang lumpuh itu," kata Paus, "tetapi tidak hanya menyembuhkan kelumpuhan: Yesus mengampuni dosanya, membarui kehidupan orang lumpuh itu dan teman-temannya."
“Jadi, kita bertanya pada diri kita sendiri: bagaimana kita dapat membantu untuk menyembuhkan dunia kita hari ini? Sebagai murid Yesus, tabib jiwa dan raga, kita dipanggil untuk melanjutkan pekerjaan-Nya, yaitu karya penyembuhan dan keselamatan secara fisik, sosial, dan spiritual,” kata Paus Fransiskus, mengutip Katekismus Gereja Katolik.
Paus mengatakan, pekerjaan penyembuhan itu didasari pada prinsip-prinsip yang berkaitan erat yang ditemukan dalam Kompendium Ajaran Sosial Gereja, seperti prinsip penghargaan terhadap martabat manusia, kebaikan bersama, keberpihakan terhadap orang miskin, solidaritas, subsidiaritas, dan kepedulian terhadap bumi.
“Semua prinsip ini mengungkapkan, dalam cara yang berbeda, keutamaan iman, harapan, dan cinta,” jelasnya.
"Dalam beberapa minggu ke depan, saya mengundang Anda untuk bersama memecahkan masalah yang disorot selama pandemi ini, terutama penyakit sosial," katanya.
“Dan kita akan melakukannya dalam terang Injil, keutamaan teologis, dan prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja. Kami akan mengeksplorasi bersama bagaimana tradisi sosial Katolik dapat membantu keluarga manusia untuk menyembuhkan dunia yang menderita penyakit serius ini," tutup Paus Fransiskus.)***
Rian Safio. Sumber: Catholic News Agency

Paus Fransiskus Mengajak Umat Katolik Hidup dengan “Logika Allah”

By On August 03, 2020

Paus Franssiskus. Foto: istimewa 

Terasvita.com - Paus Fransiskus mengajak umat Katolik sejagat untuk hidup dengan "logika Allah", yakni mengambil bagian dalam tanggung jawab untuk kesejahteraan orang lain.

Hal itu disampaikan Paus Fransiskus dalam katekese yang biasa disampaikan sebelum doa Angelus pada 2 Agustus 2020, di Plataran Basilika St. Petrus, Roma, Italia. Ia merenungkan Injil untuk Minggu, Pekan Biasa XVIII, yaitu kisah penggandaan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan 5.000 orang (Matius 14:13-21).
Paus mengutip ayat 15 dan 16 dari perikop tersebut: Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata:  Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka membeli makan di desa-desa. Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Kamu harus memberi mereka makan!"
“Yesus ingin menggunakan situasi tersebut untuk mendidik murid-murid-Nya, baik yang dulu maupun yang sekarang, tentang logika Allah," kata paus dikutip dari kantor pers Takhta Suci.
Logika Allah yang kita lihat di sini, lanjut Paus Fransiskus, adalah mengambil tanggung jawab terhadap orang lain; logika tidak mencuci tangan; logika tidak melihat ke arah lain.
Dengan demikian, ujar penerus Paus Benediktus XVI itu, "'Biarkan mereka berjuang sendirian' seharusnya tidak masuk ke dalam kosakata kristiani." 
Paus Fransiskus menunjukkan bahwa setelah para murid memberikan kepada Yesus roti lima dan dua ikan, Yesus melakukan mukjizat yang memungkinkan setiap orang untuk makan sebanyak yang mereka inginkan.
Paus berkata: “Dengan mukjizat ini, Yesus menunjukkan kuasa-Nya; bukan dengan cara yang spektakuler tetapi sebagai tanda kasih dari kemurahan hati Allah Bapa terhadap anak-anak-Nya yang letih dan membutuhkan makanan. Dia masuk dalam kehidupan umat-Nya, Dia memahami kelelahan dan keterbatasan umat-Nya, tetapi Dia tidak membiarkan siapa pun hilang, atau kalah: Dia memelihara umat-Nya dengan firman-Nya dan menyediakan makanan dalam jumlah banyak untuk dimakan.”
Berbicara dari jendela yang menghadap Lapangan Santo Petrus, Paus menunjukkan hubungan antara mukjizat penggandaan roti dan Ekaristi.
“Patut dicatat betapa dekatnya kaitan antara roti Ekaristi, makanan untuk kehidupan abadi, dan roti harian, yang diperlukan untuk kehidupan duniawi,” pungkasnya.
Paus berkata, “Sebelum menawarkan diri-Nya kepada Bapa sebagai Roti keselamatan, Yesus memastikan ada makanan bagi mereka yang mengikuti-Nya dan yang, untuk bersama-sama dengan-Nya, lupa menyediakan perbekalan. Kadang-kadang, antara yang spiritual dan material bertentangan, tetapi pada kenyataannya spiritualisme, seperti materialisme, asing bagi Alkitab. Itu bukan bahasa Alkitab.”
Paus melanjutkan: "Belas kasihan dan kelembutan yang ditunjukkan Yesus kepada orang banyak bukanlah sentimentalitas, melainkan manifestasi konkret dari cinta yang peduli pada orang-orang yang membutuhkan."
Paus mengatakan bahwa umat Katolik harus menyambut Ekaristi dengan sikap belas kasih sama seperti yang ditunjukkan Yesus saat memberi makan kepada 5.000 orang.
“Belas kasihan bukanlah soal material semata; kasih sayang sejati adalah 'patire con' (untuk menderita bersama), untuk meletakkan kesedihan orang lain pada diri kita sendiri," kata Paus.
“Mungkin baik bagi kita hari ini untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah saya merasa kasihan ketika saya membaca berita tentang perang, tentang kelaparan, tentang pandemi? Dan begitu begitu banyak hal lain...”
“Apakah saya berbelas kasih terhadap orang-orang itu? Apakah saya berbelas kasih terhadap orang-orang di dekat saya? Apakah saya mampu ikut menderita bersama mereka, atau apakah saya melihat ke arah lain, atau membiarkan 'mereka berjuang sendirian'?"
"Mari kita tidak melupakan kata 'belas kasih' ini, orang yang percaya pada kasih Bapa yang tak terbatas, berarti  berani untuk," ajak Paus berpaspor Argentina itu.
Setelah melafalkan Angelus, paus menyatakan kesedihannya atas serangan bom api terhadap sebuah katedral di Nikaragua pada 31 Juli.
Dia juga menyoroti Pengampunan Assisi, yang dirayakan pada 1-2 Agustus. Pengampunan Assisi atau Indulgensi Porziuncola adalah indulgensi penuh yang dapat diperoleh umat Katolik secara bersama.
Paus menggambarkan indulgensi itu sebagai hadiah spiritual yang diterima Santo Fransiskus Assisi dari Allah melalui perantaraan Perawan Maria.
Paus Fransiskus mengungkapkan persyaratan untuk mendapatkan indulgensi itu, yakni menerima absolusi dalam Sakramen Tobat, mengikuti  Ekaristi di tempat yang sama dengan pengakuan dosa, mengunjungi sebuah paroki atau gereja Fransiskan, mendaraskan Syahadat dan Bapa Kami, dan berdoa untuk paus.
Dia berkata: "Betapa pentingnya untuk selalu menempatkan pengampunan Tuhan, yang 'menghasilkan surga' di dalam kita dan di sekitar kita, kembali di pusat, yaitu pengampunan yang datang dari hati Tuhan yang penuh belas kasihan!"
Melihat ke arah para peziarah yang berkumpul di alun-alun, paus menyambut sekelompok dari Palosco-Lombardia, orang-orang Brasil yang memegang bendera nasional mereka, dan mereka yang berdevosi kepada Maria Imaculata.
Dia berkata bahwa dia berharap bahwa dalam beberapa hari mendatang semua orang akan dapat beristirahat, menghabiskan waktu di alam, dan menjadi segar kembali secara rohani.
“Pada saat yang sama saya berharap bahwa, dengan komitmen kerja sama dari semua pemimpin politik dan ekonomi, pekerjaan dapat dilanjutkan: keluarga dan masyarakat tidak dapat melanjutkan hidup tanpa pekerjaan. Mari kita doakan ini,” katanya.
“Ini dan akan menjadi masalah setelah pandemi: kemiskinan dan pengangguran. Solidaritas dan kreativitas sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini," tutupnya. )***
Rian Safio. Sumber: Catholic News Agency

Pater Tetteroo OFM: Menyapa Umat dengan Senyum

By On July 28, 2020


Pater Tetteroo OFM berjubah coklat kehitam-hitaman berpose bersama Presiden ke-2 RI, H. Soeharto dan beberapa biarawati lainnya. Foto: dokumen penulis.
Terasvita.com - Senyum tulus selalu tersaji anggun di wajahnya. Orang-orang yang menjumpainya pun mengalami kegembiraan, merasa diterima sebagai saudara atau saudari. Itulah kesan umat di Nabire, Papua tentang Pater Tetteroo OFM, kelahiran Den Hoorn Gem, Belanda, 7 Februari 1912.
Nama kecilnya Thomas. Akrab dipanggil Tom. Ia menamatkan Gymnasium di Venray pada 1929. Setamat dari Gymnasium, Tom muda masuk biara Fransiskan di Belanda pada 7 September1929. Mengikuit tradisi sehat Gereja sebelum KV II, yaitu seorang yang masuk biara harus menggunakan nama baru, Tom memilih nama biaranya Philipus sehingga di kemudian hari dikenal dengan Pater Philipus Tetteroo OFM.
Pendidikan Pater Tetteroo OFM tidak mengalami hambatan. Ia mulai mengeluti ilmu filsafat di Venray pada 1930 sampai 1932, kemudian melanjutkan kuliah ilmu teologi di Alverna dan Weert dari tahun 1932 sampai 1936. Antara waktu tersebut, pada 1933 ia mengikrarkan kaul kekal. Lalu, setelah proses pendidikannya selesai, ia ditahbiskan menjadi imam pada 22 Maret 1936 di Weert.
Bumi Nusantara Memanggilnya
Setahun pasca ditahbiskan, ia diutus oleh pimpinannya yang dalam tradisi Fransiskan disebut minister (pelayan) ke bumi Nusantara, Indonesia. Tetteroo OFM tiba di Batavia (sekarang Jakarta) pada 24 Januari 1937.
Selang tiga bulan kemudian, Pater Tetteroo OFM menginjakkan kakinya di bumi Cenderawasih, 18 Maret 1837. Ia menjadi salah satu misionari pertama yang hendak menggarami bumi Papua dengan Injil dalam semangat Fransiskan.
Mula-mula ia bertugas di daerah Kepala Burung, yakni Babo (8 Mei 1942-22 Agustus 1945). Setelah Jepang kalah perang, para misionaris Katolik yang ditangkap dan dipenjarakan akhirnya dibebaskan. Pater Tetteroo OFM kembali lagi ke Babo pada 17 Februari 1946 sampai 17 Juli 1947.
Setelah berlibur ke Belanda sehabis bertugas di Babo, mulai 12 Juni 1948, Pater Tetteroo OFM bertugas di Keerom dengan pusat di Wembi. Pada 7 Mei 195, ia sempat ke Sydney, Australia, untuk perawatan mata. Sekembalinya dari Australia, tepatnya pada perayaan Natal tahun 1951, Pater Tetteroo OFM dipindahkan dari Wembi ke Arso.
Selama di Arso, ada dua peristiwa penting yang terjadi, yakni diadakannya Krisma pada 1952 dan mengikuti suatu konferensi Unesco di Bombay pada Desember1952. Pada 8 Oktober 1953 ia menyelesaikan tugas di Arso dan diutus ke Hollandia Binen (sekarang Abepura), menjadi sekretaris Mgr. Oscar Cremers OFM sampai 1 Maret 1955. Saat bertugas sebagai sekretaris Mgr. Cremers Cremers OFM untuk sementara waktu, yakni dari 26 Januari sampai 17 Mei 1954 ia menggantikan tugas sang gembala.
Pada 1 Maret 1955 sampai 16 Januari 1958, Pater Tetteroo OFM bertugas Hollandia Haven (sekarang Jayapura kota) sebagai pastor paroki. Sejak 20 Juli 1956, Pater Tetteroo OFM diberi kepercayaan juga untuk menjadi Vikarius Delegatus dan Provincaris. Pater Tetteroo OFM juga diminta untuk menjadi pengajar di seminari dan mengajar bahasa Jerman di SMA.
Pada 22 Juli 1958 Pater Tetteroo OFM kembali mengambil cuti tahunan ke Belanda. Setelah masa cutinya selesai, ia kembali ke Papua pada 20 April 1963. Pada tahun yang sama ia menjadi pastor untuk dok V dan Argapura. Tugas ini diembannya sampai 16 November 1967.
Dari Jayapura, Pater Tetteroo OFM dipindahkan ke Enarotali sejak 28 November 1967 sampai April 1970. Lalu, sejak 1 Oktober 1970 sampai 1 Maret ia menjadi pastor di Deyai.
Dari Deyai, Pater Tetteroo OFM mendapat tugas di beberapa tempat dalam jangka waktu yang relatif singkat, seperti Nabire (Desember 1979 -Juli 1981), Sentani (27 Juli 1981-12 Juli 1982), Moanemani (13 Juli 1982-2 Januari 1984), Mabilabol (20 Januari 1984-6 Oktober 1984), dan Abmisibil (selama dua bulan sampai selesai Natal 1984). Kemudian, ia kembali bertugas di Moanemani sampai pension pada 1987.
Purna Karya Sang Pastor Murah Senyum
Pada 24 November 1987, Pater Tetteroo OFM menikmati masa purna tugas di Nabire. Selama di sana, Pater Tetteroo OFM tetap bersedia untuk mengisi kekosongan-kekosongan pelayan dan asistensi-asistensi pada saat Natal-Paskah serta pesta-pesta gerejawi lainnya.
Senyum dan keterbukaannya yang khas masih terawat hingga tua, tak lekang oleh waktu. “Kalau Pater Tetteroo OFM keluar rumah senantiasa ditemani oleh bebek suzukinya (motor) dan ia orang yang suka menyapa umat dengan khas senyumannya,” kata seorang umat di Nabire, suatu waktu.
Pada usianya yang ke-80 dan usia imamatnya ke-55 tahun pada 7 Februari 1992, Pater Tetteroo OFM memutuskan untuk kembali ke Belanda. Ia pun berpamitan kepada umat yang pernah dilayaninya, antara lain di Deyai, Moanemani, dan Enarotali.
Pada 8 Maret 1992, Pater Tetteroo OFM mengadakan acara perpisahan bersama saudara Fransiskan di Biara Fransiskus, APO, Jayapura. Keesokannya, seraya mengucapkan pamit untuk bumi Cenderawasih, pesawat mengantarnya kembali ke haribaan tanah kelahirannya di negeri Kincir Angin, Belanda.
Ia menghabiskan sisa hidupnya di Belanda. Setelah empat belah tahun kepulangannya ke tanah kelahirannya, pada 15 Desember 2006 silam, ia dijemput saudari maut badani. Ia menyelesaikan peziarahanya selama 94 tahun di bumi dan kembali pulang ke kehidupan abadi dalam persekutuan kasih dengan Allah Tritunggal di surga, Tanah Air Abadi.
Sdr. Vredigando Engelberto Namsa OFM, biarawan Fransiskan Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua- tinggal di Papua.


Reverensi:
Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Jayapura: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2012.
----------, “Fransiskan Masuk Papua Jilid II”, Jayapura: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2016.
Necrologium Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua, 2020.

“Tifa Jaya”, No. 227 Desember 1992.

Tri Sentra Pendidikan dan Keresahan Orangtua

By On July 27, 2020

foto: dok. pribadi 

Oleh: Yeri Lando
Terasvita.com- Pandemi Covid-19 yang mengharuskan sektor Pendidikan menyelenggarakan pembelajaran dalam jaringan (daring), memunculkan berbagai keluhan atau keresahan pada orangtua murid. Keluhan-keluhan itu antara lain, yaitu tugas siswa terlalu banyak, pembelajaran kurang maksimal, orangtua kewalahan mendampingi sang buah hati, dll.
Keresahan-keresahan itu erat kaitanya dengan cara pandang para orangtua yang cenderung melihat sekolah sebagai outsourcing untuk belajar sehingga segala beban belajar anak diberikan ke pihak sekolah semata. Orangtua kerap beranggapan bahwa tugas mereka hanya membayar lunas uang sekolah. Lalu,  mereka seolah “lepas tangan” dan memberikan sepenuhnya kepada pihak sekolah tugas yang berkaitan dengan “isi kepala” anak-anak. 
Para orangtua lupa atau sengaja lupa bahwa keluarga merupakan tempat belajar pertama dan terutama bagi anak-anak. Dan, merekalah pendamping atau 'guru' yang pertama dan utama bagi anak-anak. Pertama kali seseorang belajar berbicara, berjalan, belajar tata krama, dll adalah di rumah, bukan di gedung sekolah. Dengan demikian,  keresahan yang timbul selama anak-anak belajar dari rumah seharusnya tidak terjadi. 
Sejatinya, pembelajaran dari rumah yang ramai terjadi sekarang ini memberi kesempatan kepada orangtua untuk mengenal anaknya lebih baik dan meningkatkan kualitas hubungan dengan anak. Lebih daripada itu, menurut hemat kami, menjadi momen untuk mengenalkan kembali pemikiran bapak pendidikan Indonesia: Ki Hajar Dewantara. Ia dikenal sebagai pelopor pendidikan Indonesia. Ide-ide dan buah pikirannya turut mempengaruhi pendidikan di negeri ini.
Dia telah meletakkan fondasi pendidikan kita. Di atas fondasi inilah seharusnya pendidikan kita dibentuk dan diarahkan meskipun dalam praktiknya terkadang melenceng. Salah satu pemikirannya yang menjadi fondasi pendidikan kita adalah Tri Sentra Pendidikan.
Tri Sentra Pendidikan (Tiga Pusat Pendidikan) menekankan bahwa tanggung jawab terhadap pendidikan anak berlangsung di tiga lingkungan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiganya berperan penting dalam proses pendidikan anak. Ketiga entitas ini mesti saling mengisi dan memperkuat satu sama lain. 
Keluarga
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat terdiri dari: suami, istri, dan anak__ayah dan anak__ atau ibu dan anak (lih. UU Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga). Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam perkembangan individu  karena dalam keluargalah anak tumbuh dan berkembang.
Dalam dunia pendidikan, pembelajaran dalam keluarga disebut sebagai pendidikan informal. Pembelajaran itu dilakukan setiap hari pada saat terjadi interaksi antara anak dengan anggota keluarga lainnya. Pada momen ini peran orangtua sebagai panutan bagi anak-anaknya sangat vital.
Orangtua berperan penting dalam membentuk dan mengembangkan karakter serta kepribadian anak. Semakin baik kualitas keluarga, maka semakin besar pula kemungkinan kepribadian dan karakter anak bertumbuh dan berkembang secara positif. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar. Apa yang dipelajarinya dalam keluarga akan berdampak dalam kehidupan sosialnya baik di masyarakat maupun di sekolah.
Sekolah
Sekolah merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar secara formal atau disebut sebagai pendidikan formal. Tiga elemen penting di sekolah antara lain para guru, sarana dan prasarana, dan terutama siswa/i
Di sekolah, peran guru dalam memfasilitasi peserta didik dapat dilakukan dengan banyak cara, satu di antaranya adalah guru tidak lagi memberikan informasi satu arah dalam bentuk ceramah, tetapi sebagai fasilitator, motivator sekaligus tutor. Materi pelajaran yang disampaikan pun tidak hanya berasal dari guru, tetapi juga melibatkan siswa untuk aktif mencari informasi entah itu di perpustakaan, internet ataupun penelitian di laboratorium.  Dengan demikian, materi ajar yang disampaikan dalam kelas pun lebih bervariasi dan pembelajaran menjadi lebih bersemangat
Selain materi ajar yang bervariasi, guru dapat melakukan kolaborasi dengan sesama guru untuk memperkaya materi ajar kepada siswa. Diharapkan dengan adanya kolaborasi antara guru, para siswa pun diajak untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas sekolah.
Tujuan dilakukannya kolaborasi agar peserta didik dapat mempelajari hubungan antara satu bidang studi dengan bidang studi yang lain. Karena, dalam kenyataan banyak bidang studi tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait. 
Oleh karena itu, sekolah pun perlu melakukan pembinaan pendidikan untuk peserta didiknya berdasarkan tuntutan zaman siswa di masa depan. Jadi, sejak di bangku sekolah mereka diajarkan untuk mempelajari sesuatu secara komprehensif dan kerja dalam tim.
Di masa pandemi ini, peran guru dalam kelas maya sebagai fasilitator, kolaborator, mentor, pengarah, dan teman belajar peserta didik sangat penting. Selain itu, metode pengajaran pun tidak bisa statis seperti pembelajaran tatap muka karena hanya akan meningkatkan stress orangtua dan anak. Guru tidak hanya berkolaborasi dengan sesama guru, tetapi juga dengan orangtua karena selama belajar dari rumah orangtualah yang mendampingi anak belajar.
Masyarakat
Secara sederhana, masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang yang saling berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Anak dalam pergaulannya di masyarakat tentu banyak berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan orang lain. Interaksi secara langsung misalnya anak bermain dengan teman-temannya di luar rumah, sedangkan secara tidak langsung anak melihat kejadian-kejadian yang terjadi dalam masyarakat.
Lingkungan masyarakat adalah laboratorium anak untuk belajar lebih luas lagi. Berbagai macam hal yang dipelajari anak di dalam keluarga dan di sekolah mendapat ruang penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, komitmen masyarakat untuk mendukung anak-anak belajar sangatlah berpengaruh dan menentukan perkembangan kualitas kemanusiaan seseorang.
Salah satu contoh positif di mana lingkungan masyarakat turut mendukung pendidikan anak-anak adalah apa yang dilakukan sekelompok masyarakat di Jogja pada beberapa tahun lalu. Mereka bersepakat semua TV di desa itu tidak dibuka pada jam belajar anak-anak pada malam hari, dari pkl. 18.00-20.00 WIB. Anak-anak fokus belajar tanpa gangguan apa pun. Bahkan, di rumah yang punya TV dan tidak ada anak yang sedang duduk di bangku sekolah, pun ikut menjalankan program tersebut.
Akhirulkalam
Untuk mendidik anak bukan hanya menjadi tugas sekolah, melainkan juga tugas keluarga dan masyarakat. Keluarga merupakan komunitas pertama bagi anak belajar untuk belajar. Demikian halnya dengan masyarakat: ruang bagi anak-anak menerapkan apa yang ia dapat di dalam keluarga dan sekolah sekaligus ia mencerap apa yang ia dapat di lingkungan masyarakat dan dibawanya serta dalam kehidupan di keluarga dan di sekolah. Keresahan orangtua dalam mendidik anak selama belajar daring menyadarkan semua pihak bahwa tugas mendidik anak bukan dibebankan kepada guru atau sekolah semata. Keluarga dan masyarakat turut berperan aktif dalam pendidikan anak.
Penulis adalah pemilik blog: Berandawangkung.com. Ia menyelesaikan pendidikan strata-1 Filsafat Keilahian di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Antara Orangtua dan Anak dalam Sekolah yang Bernama "Keluarga"

By On July 08, 2020


Gambar: istimewa
Terasvita.com - Keluarga merupakan tempat pertama dan terutama untuk mendidik anak. Keluarga berperan sebagai sekolah cinta. Keluarga sebagai locus (tempat) untuk menghidupkan cinta yang sebenarnya antara orangtua dan anak-anak. Karena itu, setiap tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Harganas pertama kali diperingati pada 1933 di Lampung. Lalu, pada 2014 diputuskan bahwa Harganas menjadi hari penting yang harus dirayakan setiap tahun dengan meriah.
Pada tahun ini, Kota Padang telah ditetapkan sebagai tempat pelaksanaan Harganas. Akan tetapi, pandemi Covid-19 mengharuskan perayaan ini berlangsung secara virtual (online). Harganas tahun ini menghendaki agar keluarga berkarakter beragama, berbudaya, dan produktif. Hal ini dipandang perlu karena memang keluarga menjadi peletak dasar bagi perkembangan anak selanjutnya. Orangtua harus memiliki pengetahuan yang sama bahwa keluarga akan membentuk masyarakat, bangsa, dan dunia. Jika demikian, maka keluarga harus sungguh-sungguh menjalankan peran sebagai laboratorium pembentukan diri anak sebagai cikal bakal terbentuknya komunitas masyarakat, bangsa, dan dunia. 
Dalam alur pemikiran yang sama, HIDUP TV menyelenggarakan talkshow bertajuk “Keluarga: Sekolah Cinta”. Talkshow ini mendiskusikan tentang bagaimana cara mendidik anak supaya memiliki karakter dan moralitas yang baik, apa pentingnya peran ayah dan ibu dalam pendidikan anak, dan bagaimana orangtua bisa membimbing anak menemukan panggilan hidup. Semua yang terlibat dalam acara talkshow ini sepakat bahwa jika keluarga-keluarga bisa menjadi “sekolah cinta”, maka dunia kehidupan ini juga bisa menjadi penuh dengan cinta, damai, dan harmonis.
Sekolah Cinta
Setiap keluarga mempunyai tanggung jawab moral untuk mengayomi anak-anak sebagai aset dan pemilik masa depan bangsa.  Masa depan adalah milik anak-anak yang sedang bertumbuh dan berkembang. Masa depan anak sangat ditentukan oleh bentuk pendampingan dan bimbingan yang dilaksanakan dalam keluarga. Keluarga sebagai sekolah cinta mengharuskan orangtua untuk mendidik dan mengarahkan anak dalam semangat cinta, demokratis, bukan bersifat represif atau otoriter.
Dalam pandangan Gereja Katolik, perkawinan dan keluarga adalah sebuah sekolah cinta. Istilah ini dipakai mendiang Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolik yang berjudul “Familiaris Consortio” (Persekutuan Keluarga) sebagai sebuah khotbah apostolik pasca-sinode yang diumumkan secara resmi pada 22 November 1981.
Dalam surat apostolik tersebut ditegaskan bahwa cinta yang ada dalam diri setiap anggota keluarga ditaburkan oleh Allah Bapa sendiri. Benih cinta itu harus dijaga dan dirawat dengan baik. Keluarga sebagai tempat atau tanah di mana benih itu tumbuh harus dipupuk serta digemburkan dengan cinta yang tulus. Dengan demikian, benih itu bisa tumbuh dan berbuah banyak.  Dengan kata lain, keluarga sebagai sekolah cinta menjadi tempat persemaian bagi benih cinta antara orangtua dan anak-anak. Sebab, jika keluarga berperan sebagai sekolah cinta, maka dunia kehidupan manusia akan menjadi harmonis, penuh cinta, dan damai.
Perihal pentingnya keluarga, Kahlil Gibran, penyair kondang asal Libanon, menarasikannya dengan sangat indah dalam puisi yang berjudul “Anakmu Bukanlah Milikmu”:
Anak adalah kehidupan, mereka sekadar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu.Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu. Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu, karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya. Karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kaudatangi. Bahkan, dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu. Sebab, kehidupan itu menuju ke depan, dan tidak tengelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian. Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya, hingga anak panah itu meleset, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat,sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. (https://rumahinspirasi.com/anakmu-bukan-anakmu/)
Menurut Kahlil Gibran, orangtua hanyalah sebuah busur, sedangkan anak-anaknya adalah anak panah. Busur hanya bisa berarti atau bermakna jika ia melepas anak panahnya. Biarkan anak panah itu melesat mengejar target berupa mimpi dan cita-citanya. Tuhan, menurut Kahlil Gibran, mencintai anak panah (anak-anak) yang berjalan lurus menuju targetnya, sebagaimana Tuhan juga mencintai busur (orangtua) yang selalu mendukung setiap kegiatan positif anaknya demi mencapai cita-cita yang diinginkan anaknya.
Puisi ini sangat dramatis, kontroversial, keterlaluan, sekaligus bagai bom yang meledak di telinga orangtua. Kebanyakan orangtua selalu ingin menguasai anak-anaknya sebagai miliknya yang bisa diatur sesuai keinginannya. Kenyataan seperti ini mengondisikan anak tidak dapat berkreasi dan berinovasi. Akibatnya, anak berkembang sesuai dengan keinginan orangtua, bukan berdasarkan kesempatan bertumbuh dan berkembang anak. Pola pendidikan seperti ini justru tidak membantu anak untuk bertumbuh dan berkembang baik di masa yang akan datang.
Puisi ini juga mereposisi hubungan atau relasi antara orangtua dan anak, yakni orangtua hanya memberikan arahan dan bimbingan, tetapi bukan memaksakan keinginan dan pemikiran kepada anak. Sebab, anak-anak lahir melalui orangtuanya, tapi bukan orangtuanya yang memberi anak-anak itu kehidupan. Tuhanlah yang memberikannya. Anak-anak hanya dititipkan oleh Tuhan kepada orangtuanya. Orangtua sudah merawat dan membesarkan anak-anaknya, namun anak-anak bukan hak orangtua untuk menguasainya.
Orangtua boleh (bahkan wajib) memberikan kasih sayang kepada anak-anak. Akan tetapi, hal itu bukan berarti orangtua boleh memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya atas nama kasih sayang. Orangtua juga tidak layak memaksakan pikirannya, karena anak-anak (sebagai manusia yang utuh) mempunyai pemikiran sendiri. Orangtua boleh memberikan rumah untuk badan anak-anaknya, tetapi bukan sangkar untuk jiwa anak-anak. Anak-anak punya masa depan yang diimpikannya sendiri, dan orangtua tidak berhak untuk mengatur masa depan anak-anaknya itu. Bahkan sekadar niat pun tidak boleh. Mengarahkan ke jalur yang baik memang boleh, tetapi bukan mengatur masa depan anak-anaknya.
Jika hal ini dilakukan, maka sebenarnya orang tua mengembangkan dan melayani kebutuhan anak secara holistik integratif. Orangtua telah menjadikan keluarga sebagai sekolah cinta. Khalil Gibran mengajak semua keluarga (orangtua) untuk memberikan perlindungan terhadap anak, bukan kekerasan dalam pelbagai bentuknya. Kita tidak hanya bernarasi tentang perlindungan terhadap anak, tetapi harus terlibat langsung dalam gerakan “Save the Children” atau menyelamatkan anak dengan cinta.  
Salah satu cara untuk menyelamatkan anak adalah dengan menerapkan pola asuh yang positif terhadap anak. Sebab, pola asuh orangtua terhadap anaknya menjadi faktor dominan bagi tumbuh kembang seorang anak. Karakter yang dimiliki seorang anak hingga tumbuh dewasa berkaitan erat dengan pola pengasuhan orangtua dalam keluarga. Pola pengasuhan yang positif selalu memberikan fondasi yang kuat untuk bertumbuh dan berkembangnya karakter positif dalam diri anak.  
Seperti dilansir dari idntimes.com,  ada lima sikap dan karakter yang dimiliki seorang anak jika seorang anak dibesarkan dengan cinta di dalam keluarga, yakni sebagai berikut.
Percaya Diri
gambar: google
Keluarga menjadi tempat bagi seorang anak untuk memperoleh dukungan sekaligus tempat berlindung dan mengadu.  Jika demikian yang terjadi, maka seorang anak sudah pasti akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri kapan pun dan dimana pun berada. Rasa percaya diri itu akan melekat dalam dirinya hingga anak tersebut tumbuh dewasa.

Dermawan
gambar: google
Seorang anak yang dibesarkan dengan kasih sayang selalu bersedia untuk berbagi dengan orang lain. Seorang anak merasa bahwa Tuhan telah memberikan berkah luar biasa karena memiliki orang-orang yang menyayanginya. Dengan demikian, seorang anak selalu berpikir harus berbagi kebahagiaan dan apa yang dimiliki untuk orang lain, apalagi orang yang sangat membutuhkan bantuan.

Penyayang 
gambar: google
Jika seorang anak terbiasa hidup dalam suasana keluarga yang saling menyayangi antarsesama anggota keluarga, maka kebiasaan terbentuk dapat membentuk seorang anak menjadi pribadi penyayang. Suasana kasih sayang dalam keluarga yang dialami anak sejak kecil akan menjadi habitus (kebiasaan) yang menjiwai anak tersebut hingga beranjak dewasa. Tidak heran, jika seorang anak yang sangat disayangi orangtuanya akan tumbuh menjadi pribadi penyayang terhadap orang-orang disekitarnya.

Mudah Memaafkan
gambar: google

Seorang anak yang dipenuhi rasa cinta sejak kecil akan bertumbuh menjadi pribadi yang berjiwa besar yang senantiasa memaafkan orang lain yang melakukan kesalahan.

Simpatik
gambar: google
Salah satu sikap seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang adalah selalu bisa merasakan kedukaan dan penderitaan orang lain. Anak seperti ini selalu bisa mengerti seberapa besar penderitaan orang lain dan menempatkan dirinya di kondisi orang tersebut. Seorang anak akan menjadi pribadi yang penuh perhatian dan simpatik untuk orang-orang terdekatnya yang sedang dirundung duka.
Catatan Akhir
Perayaan Harganas yang ke-27 tahun 2020 sebagai momentum penguatan keluarga sebagai sekolah cinta. Perayaan ini akan bermakna jika semua keluarga berkomitmen untuk mewujudkan sebuah keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Sebab, seorang anak justru belajar dari orang-orang dekat yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi sekolah cinta, tempat seorang anak mengalami cinta kasih untuk pertama kalinya. Jika seorang anak merasakan cinta itu di dalam keluarga, maka anak tersebut akan bertumbuh dan berkembang dalam cinta ketika hidup bersama yang lain.
Tentang bagaimana seorang anak belajar dari kehidupannya, Dorothy Law Nolte, sebagaimana dilansir mynameisadams.wordpress.com, merumuskannya dalam ungkapan hatinya yang berjudul “Anak Belajar dari Kehidupannya”: 
Jika seorang anak hidup dalam suasana penuh kritik, ia belajar untuk menyalahkan.
Jika seorang anak hidup dalam permusuhan, ia belajar untuk berkelahi. 
Jika seorang anak hidup dalam ketakutan, ia belajar untuk gelisah.
Jika seorang anak hidup dalam belas kasihan diri, ia belajar mudah memaafkan dirinya sendiri.
Jika seorang anak hidup dalam ejekan, ia belajar untuk merasa malu.
Jika seorang anak hidup dalam kecemburuan, ia belajar bagaimana iri hati.
Jika seorang anak hidup dalam rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah.
Jika seorang anak hidup dalam semangat jiwa besar, ia belajar untuk percaya diri.
Jika seorang anak hidup dalam menghargai orang lain, ia belajar setia dan sabar.
Jika seorang anak hidupnya diterima apa adanya, ia belajar untuk mencintai.
Jika seorang anak hidup dalam suasana rukun, ia belajar untuk mencintai dirinya sendiri.
Jika seorang anak hidupnya dimengerti, ia belajar bahwa sangat baik untuk mempunyai cita-cita.
Jika seorang anak hidup dalam suasana adil, ia belajar akan kemurahan hati.
Jika seorang anak hidup dalam kejujuran dan sportivitas, ia belajar akan kebenaran dan keadilan.
Jika seorang anak hidup dalam rasa aman, ia belajar percaya kepada dirinya dan percaya kepada orang lain.
Jika seorang anak hidup penuh persahabatan, ia belajar, bahwa dunia ini merupakan suatu tempat yang indah untuk hidup.
Jika kamu hidup dalam ketentraman, anak-anakmu akan hidup dalam ketenangan batin.
Kata-kata indah ungkapan hati Dorothy ini mengeksplisitkan suatu kenyataan bahwa pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sangat ditentukan oleh lingkungan sekitarnya (keluarga, orang-orang dekatnya, dan masyarakat). Kehadiran komponen-komponen ini sangat membantu perkembangan anak ke arah yang lebih baik. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan informal hadir sebagai sekolah cinta yang menjadi basis pembentukan karakter anak.
Paradigma keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak memang menuntut tanggung jawab yang besar. Penanaman nilai-nilai karakter (percaya diri, dermawan, penyayang, mudah memaafkan, simpatik, disiplin, jujur, taat, motivasi, kerja keras, tanggung jawab, solider, dll) pada diri anak harus dilakukan melalui contoh dan pembiasaan (modeling).  
Metode contoh dan pembiasaan tentu bukan tugas yang mudah bagi orangtua. Sebab, orangtua tidak hanya mensosialisasikan nilai-nilai karakter kepada anak. Akan tetapi, orangtua harus memberi contoh dan membiasakan diri untuk hidup dengan karakter-karakter yang baik. Pembentukan karakter dalam diri anak akan berjalan efektif, jika orangtua selalu menyadari diri sebagai pendidik (moral, karakter) bagi anak.
Peran keluarga harus lebih optimal lagi sebagai sekolah cinta bagi anak-anak. Keluarga menjadi tempat bagi seorang anak untuk mengenal dunia awal kehidupannya. Orangtua harus meletakkan dasar yang kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya. 
Robert D. Ramsey mengajak semua keluarga (para orangtua) supaya, “Berikanlah anak-anakmu akar yang kuat untuk tumbuh dan sayap yang kokoh untuk terbang di kemudian hari.” Selamat merayakan Hari Keluarga Nasional yang ke-27 Tahun 2020. Jadikanlah keluarga-keluarga kita sebagai sekolah cinta. ***
RD Stephanus Turibius Rahmat. Penulis adalah dosen di Universitas Katolik St. Paulus, Ruteng, NTT.

Contact Form

Name

Email *

Message *